Dear Kinan, jika suatu hari hidup menjelma batu-batu tajam di bawah telapak kaki kita, aku harap kau tahu—aku tak datang membawa janji tentang jalan yang mudah. Yang bisa kuberi hanya kesediaan berjalan, meski pelan, meski berdarah. Harapan adalah burung-burung kecil di dadaku. Sebagian akan terbang tinggi dan menemukan langitnya, sebagian lain gugur sebelum sempat mengepakkan sayap. Namun aku ingin kita tetap membuka jendela, membiarkan harapan datang dan pergi tanpa mengutuk kehilangan. Ada hari ketika jiwa kita redup, sunyi menggantung di antara napas, dan bahagia terasa seperti kata asing. Ada pula hari ketika tawa tumbuh sederhana, lahir dari hal-hal kecil yang nyaris luput kita syukuri. Di antara sedih dan bahagia itu, aku berharap kita saling pulang. Bukan sebagai orang yang selalu kuat, melainkan sebagai dua jiwa yang memilih bertahan, meski retak, meski letih, meski dunia tak pernah berjanji akan lembut. Jika kamu mau, aku ingin menjadi rumah— b...